Member Area
Yahoo Messenger
Facebook
Review Buku : BIOGRAFI TOKOH GKJ (SERI 3): SOETIRAH--PAULINA VAN MAGELANG
Judul Buku : BIOGRAFI TOKOH GKJ (SERI 3): SOETIRAH--PAULINA VAN MAGELANG
Reviewer : S.H. Soekatja
Review :

Soetirah lahir pada tanggal 4 Mei 1908 dari keluarga Sastrokarjo, selama 3 tahun bersekolah di Zendingsschool Kalipenten, kemudian melanjutkan di Sekolah Guru Keucheniusschool Purworejo, yang pada tahun 1906 dipindahkan ke Yogyakarta. Pada Eerste Afdeling Keuchenius school Jogjakarta, Soetirah dan kakak-kakaknya mempersiapkan diri dan dipersiapkan menjadi guru sekolah zending. Setelah lulus, Soetirah untuk waktu yang cukup lama bekerja sebagai guru sekolah zending dan pembantu penginjil di resort Magelang, khususnya pada lingkungan Pasamoewan Kristen Djawi Gereformeerd Magelang. Perubahan nasibnya terjadi ketika di Magelang datang dan bekerja dua orang pekerja utusan Zending GKN, yaitu Dokter G. J. Dreckmeier dan Ibu Barbee. Kedatangan dua orang dari Belanda ini atas pemikiran dari Ds. A. Merkelijn yang mulai berpikir tentang adanya sarana pelayanan berupa Rumah Sakit Zending di Magelang, seperti yang sudah ada di Yogyakarta, Surakarta, Purworejo dan sebagainya. Melalui dana yang berhasil dikumpulkan oleh Ds. A. Merkelijn, maka berdirilah sebuah Zending Ziekenhuis Magelang yang diresmikan pemakaiannya pada 26 Mei 1932, dan dr. G.J. Dreckmeier ditunjuk sebagai direktur medisnya. Sejak Zending Ziekenhuis te Magelang mulai dibuka, Guru Soetirah selaku penginjil pembantu perempuan di resort Magelang, khususnya di Pasamoewan Kristen Djawi Gereformeerd Magelang mulai dilibatkan dalam penginjilan di kalangan pasien rumah sakit. Secara khusus Ibu Soetirah dipekerjakan sebagai Evangelisatiewerk op kinder en vrouqensalen Zending Ziekenhuis te Magelang (Penginjil di zaal anak-anak dan wanita di Rumah Sakit Zending di Magelang). Kesungguhan, ketekunan, serta kemampuan Guru Soetirah dalam menjalankan tugas pelayanannya, memicu gagasan pada diri Dokter Dreckmeier untuk mengasahnya lebih lanjut. Pada tahun 1934, Guru Soetirah dikursuskan di Theologische Opleidingsschool Jogjakarta dan posisinya menjadi guru injil perempuan yang sejajar dengan para zendingzuster Eropa. Dalam kegiatan ini, Ibu Soetirah bekerja bahu membahu dengan Ibu Cornelia Barbee dan Ibu Martinah tinggal di Panti Wara melakukan penginjilan sekaligus pelayanan sosial kepada para Ibu-ibu dan gadis-gadis di Magelang. Pada puncaknya pelatihan jahit menjahit arahan Ibu Barbee mencapai lebih dari 20 tempat, di desa-desa yang belum pernah dimasuki pemberitaan Injil. Pada tahun 1938, jumlah peserta latihan jahit-menjahit ada sekitar 500 orang. Pekerjaan mereka yang mengkhususkan perhatian kepada kaum perempuan ini pada waktu itu sepertinya kurang dihargai oleh berbagai pihak. Ketekunan, kesungguhan dan kerelaan, dalam menyerahkan diri untuk pekerjaan-pekerjaan zending yang dilakukan oleh mereka akhirnya disadari oleh zending sebagai pekerjaan yang indah dan sudah sepatutnya mendapatkan apresiasi sebagai ungkapan terima kasih. Sukacita dalam pekerjaan sebagai zendingszuster bagi Ibu Barbee, Ibu Soetirah dan teman sekerjanya harus diakhiri ketika tentara pendudukan Jepang menguasai Indonesia sejak tahun 1942. Kesulitan demi kesulitan, tekanan demi tekanan, larangan demi larangan, mulai membelengggu pekerjaan gereja dan zending. Tapi semangat pelayanan yang luar biasa tidak pernah menciutkan langkah mereka. Ketegaran hati Ibu Soetirah menjadi landasan untuk tetap terselenggaranya pemeliharaan iman kaum gereja di kota Magelang. Namun dengan ditahannya Dokter Dreckmeier dan Ibu Barbee disertai penguasaan Rumah Sakit Zending Magelang dan Rumah Panti Wara secara berturut-turut oleh pemerintah pendudukan jepang, boleh dikatakan Ibu Soetirah kehilangan penopang kekuatan dan pendorong kegigihan kerjanya. Ibu Soetirah dan teman-temannya pada saat itu harus tinggal di "ground" (lantai bawah) Gereja Bayeman Magelang dan kembali menjadi tenaga penginjil Pasamoewan Kristen Djawi ing Djawi Tengah Sisih Kidoel di Magelang sampai pada tahun 1956. Pengalaman tersebut menjadi landasan bagi tugasnya untuk mempersiapkan para gadis untuk menjadi pekerja gereja untuk memperkenalkan Injil Kerajaan Allah kepada orang lain. Dengan lahirnya Badan Contact yang merupakan organisasi bersama para penginjil perempuan yang melayani dan bekerja di Jawa Tengah pasca jaman Zending, maka bersama dengan Klasis Kedu yang semula berniat mendirikan Kursus Kader Pekabaran Injil untuk perempuan, melahirkan Sekolah Wanita Kristen. Proses kelahiran sekolah yang nantinya diberi nama Sekolah Pekerja Wanita Kristen (SPWK) Magelang ini menetapkan Ibu Soetirah sebagai Kepala Sekolah, sedangkan Ibu A. Hoeksema diangkat sebagai Kepala Asrama. Sekolah ini dinyatakana resmi didirikan pada 25 September 1956 dengan nama Sekolah Wanita Kristen (SWK) berlokasi di ruang ground (lantai bawah) GKJ Bayeman. Ibu Soetirah telah dipilih oleh Klasis Kedu untuk tugas memimpin dan membesarkan SWK. Tugas yang sedemikian berat tersebut ternyata tidak mendapatkan imbalan yang sepantasnya. Karena para sahabat dekat inilah hidup Ibu Soetirah di masa tuanya tidak sia-sia. Ibu Soetirah tidak menikah, setelah enam belas tahun terus menerus menjadi Kepala Sekolah dan pensiun pada tanggal 1 Juli 1972, beliau masih terus mengabdikan dirinya melayani Kristus melalui Yayasan Kristen Bagi Pemeliharaan Lanjut Usia (Pelkris) di Semarang dan Pelkrim di Magelang. Disamping itu ia tetap mengabdikan bakat dan kekuatannya sebagai anggota pengurus SPWK yang sangat dihormati. Ibu Soetirah di kala senjanya sampai dipanggil kehadapan Tuhan pada tanggal 1 Mei 1977 tinggal di Wisma Elika Bandungan. Makam Ibu Soetirah Sastrokarjo sekarang berada di Giri Laya Magelang. -- Ditulis oleh S.H. Soekotjo, seperti dimuat dalam http://www.gkj.or.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=134

Promo & Event
Daftar Berita